Djati Sampoerna

Arti Sebuah Pilihan… (dedicated for Fiyosa)

In Daya Hidup, Story on June 26, 2009 at 1:34 pm

Kira-kira 2 minggu yang lalu, aku dapet undangan dari SMA St. Ursula, Jakarta untuk ‎menerima laporan hasil belajar (raport) siswi kelas X dan XI SMA St. Ursula (kenapa ‎hanya siswi?? karena sejak berdiri 150 tahun yang lalu, ‘trade mark’ sekolah ini “0% ‎laki-laki” alias hanya menerima murid dengan jenis kelamin perempuan…)
Anakku yang no.2, Fiyoza, kelas X di sekolah ini, dan pembagian raport kali ini ‎sekaligus pembagian jurusan yang wajib dipilih oleh para siswi sebelumnya…IPA, ‎IPS, ato Bahasa.‎

Dengan nggak sabar dia tanya nilai raport ke papa nya “gimana raportku beh? (anak-‎anakku biasa memanggil papa nya dengan kata ‘babeh’ kayak orang betawi!!)…” dan ‎ternyata hasilnya sama sekali tidak mengecewakan, dengan nilai rata-rata 74,85.
Di raportnya, jelas-jelas tertera kalo dia naik ke kelas XI Bahasa…

Sebelum kami para orangtua dipanggil untuk pembagian raport, para siswi kelas X ‎dibagikan angket untuk penjurusan, dia memilih jurusan IPS dan Bahasa karena cita-‎citanya pengen banget jadi diplomat….‎
Di luar dugaanku, dia minta supaya aku dan papa nya untuk minta ‘banding’ ke suster ‎kepala sekolah, untuk masuk jurusan IPS saja….dia ‘takut’ masuk jurusan Bahasa ‎karena merasa pernah ‘trauma’ dengan pelajaran bahasa Mandarin yang dia dapat dari ‎ekskul SMP dulu!!! Padahal aku, papa nya, dan Grace, kakaknya sudah ‎mendukung…bahkan kata Grace..”Jurusan Bahasa itu unik! ga semua sekolah ‎punya…hanya sekolah-sekolah dengan fasilitas pendukung memadai, yang punya ‎jurusan itu!” ‎

Aku dan papa nya yang tidak mau mengecewakan atau suatu saat disalahkan karena ‎ga mau memenuhi permintaannya…akhirnya aku menemani dia untuk antri bersama ‎para siswi yang lain serta para orangtuanya yang juga berniat mengajukan banding ke ‎suster… Saat-saat menunggu dipanggil untuk menghadap suster inilah, cerita ini ada…. Banyak sekali siswi yang ingin mengajukan banding untuk masuk ke jurusan IPA, ‎karena berbagai hal..tapi satu yang menarik..sebagian besar keinginan itu muncul ‎karena “dorongan orangtua”!‎
Ada yang dengan penuh amarah ‘meminta’ (bahkan memaksa anaknya untuk ‎berbohong dan bilang ke suster kalo kelak dia pengin masuk Kedokteran!!) anaknya ‎untuk masuk jurusan IPA karena mereka menganggap nilai anaknya mencukupi, ‎padahal minat si anak adalah masuk jurusan Bahasa!!! ‎
Yang lain bahkan rela memindahkan si anak se sekolah lain hanya supaya si anak bisa ‎masuk jurusan IPA, sedangkan si anak ‘hanya’ bisa masuk jurusan Bahasa!!
Aku hanya bertanya-tanya dalam hati…”sebenernya, siapa sih yang sekolah? anaknya ‎atau orangtuanya?”‎

Ketika giliran anakku dipanggil untuk menghadap suster, dan aku menemaninya ‎masuk ke ruangan, aku langsung berkata..”Suster, saya di sini hanya menemani, biar ‎Fiyoza sendiri yang minta ke Suster, karena dia yang sekolah!”‎
Anakku langsung bilang…”Suster, aku minta pindah ke jurusan IPS, karena nilaiku ‎cukup untuk masuk jurusan IPS…” (Sejarah 85, Geografi 65, Sosiologi 83, Ekonomi ‎‎73)
Dan suster bertanya “kenapa? Memangnya nanti kamu minat kuliah di mana?”,
jawab anakku dengan mantapnya…”aku mau masuk jurusan Hubungan ‎Internasional…aku mau jadi diplomat!”‎
suster juga langsung menjawab, “kalo memang dah minat masuk HI, akan lebih baik ‎kalo kamu sekarang masuk jurusan Bahasa, itu akan lebih mendukung jalanmu ke ‎sana!”
anakku langsung nangis sambil menjawab…”tapi aku takut dengan pelajaran Bahasa ‎Mandarin!”
Spontan…Suster Kepala Sekolah ketawa terbahak-bahak dan berkata…”baru kali ini ‎saya dengar, ada anak yang takut dan stress dengan pelajaran bahasa Mandarin..coba ‎kamu tanya kakak kelasmu yang jurusan Bahasa..apa pernah ada dalam sejarah SMA ‎St. Ursula, yang pernah stress hanya gara-gara pelajaran Mandarin? Suster dan ‎sekolah berani jamin, kamu tidak akan menemukan kesulitan di pelajaran ini kelak! ‎bahkan kalo kamu masuk ke jurusan Bahasa, kamu akan dapat pelajaran 5 bahasa ‎asing, yang kelak akan sangat berguna untuk menunjang kariermu….”
Akhirnya, anakku mantap menetapkan pilihannya untuk masuk jurusan Bahasa…

Keluar dari ruangan Kepala Sekolah, para orangtua yang sedang menunggu giliran ‎langsung tanya padaku…”gimana, berhasil ga minta banding untuk masuk IPS?”
aku jawab dengan santai…”aku biarkan anakku yang minta sendiri ke suster, karena ‎dia yang sekolah..dan karena anakku nanti minat masuk HI, suster ‘memberi ‎pencerahan’ dan mendukung penuh untuk tetap di jurusan Bahasa!” di luar dugaanku, ‎ada seorang ibu yang berkomentar..”mana mungkin anak seumur gitu dah mantap ‎milih mau kuliah di HI?”‎
Aku (walau sedikit kaget..) menjawab..”itu mungkin karena anakku sudah banyak ‎melihat contoh di keluargaku yang lulusan HI dan tinggalnya di luar negeri… ‎Bagaimana cara kita menyampaikan contoh itu ke anak, bukan dengan cara memaksa ‎si anak masuk IPA demi gengsi orangtua, berkedok ‘untuk masa depan anak’, tanpa ‎memperhatikan dan tidak mau tahu apa minat dan bakat anak!”‎
Aku sedikit cerita…”, kakaknya dulu juga masuk jurusan IPS karena dari SMP dia dah ‎minat untuk masuk Psikologi, aku dan papa nya setuju dan mendukung banget ‎pilihannya, padahal kami adalah ‘produk keluarga jurusan IPA!’, kami tidak ‎mengharuskan anak untuk mengikuti jejak kami masuk jurusan yang ‘katanya’ ‎bergengsi itu…!” lanjutku lagi.. “sekarang apa gunanya memaksa anak untuk belajar ‎matematika, fisika, biologi, dan kimia selama 2 tahun ke depan, kalo nanti akhirnya si ‎anak mau masuk jurusan sosial seperti sastra, bisnis, dan lain-lain…? Akan lebih baik ‎kalo si anak bisa lebih fokus ke jurusan yang dia tuju dengan waktu 2 tahun yang ‎sama.”
Mereka pun terdiam….dan aku pamit ke mereka untuk pulang terlebih dulu….

Esok harinya, saat daftar ulang, ada seorang bapak yang menggandeng anaknya -yang ‎kelihatan sakit- untuk menghadap suster lagi…ternyata, si bapak itu ‘sudah berhasil ‎memaksa’ anaknya untuk masuk jurusan IPA, namun yang terjadi kemudian, malam ‎harinya si anak stress berat…panas tinggi dan muntah-muntah…akhirnya keesokan ‎harinya si bapak menggandeng anak menghadap suster lagi dan membuat surat ‎pernyataan bahwa anaknya ‘diperbolehkan’ masuk jurusan yang sesuai dengan ‎keinginannya… ‎
Banyak teman-teman anakku yang ‘protes’ dengan keputusan anakku…tapi anakku ‎menganggap bahwa hasil perbincangannya dengan suster kemaren adalah ‎‎”pencerahan” baginya dan jalan hidupnya kelak.‎
Banyak juga yang merasa iri… “Mengapa Fiyoza diberi begitu banyak kebebasan ‎‎(yang bertanggung jawab) untuk memilih…sementara tidak demikian halnya dengan ‎dirinya…”
Aku kasihan pada mereka…begitu tertekannya, tapi ga ada hak untuk bersuara…

Tiga hari belakangan ini aku merasa bangga dan terharu dengan keputusan anakku…di ‎usia yang masih muda, dia berani mengambil keputusan penting dan cukup berat ‎untuk hidupnya kelak…aku juga bangga sebagai orangtua, karena aku mau mengantar ‎dia dan memberi kebebasan untuk memilih, tanpa bayang-bayang diriku, suamiku, ‎maupun eyang kakung dan mbah kakungnya…yang notabene “SEMUA LULUSAN ‎JURUSAN IPA.”‎

SELAMAT FIYOZA…PILIHANMU ADALAH PILIHAN YANG TERAMAT ‎SANGAT TEPAT!!! DOA KAMI SELALU MENYERTAI LANGKAHMU….‎

by Paulina Kristiyanti Budi Reni

Sebuah Renungan – Part 1

In Story on June 1, 2009 at 12:48 am

Energi ini sekarang rasanya jadi tidak pernah cukup… walau hanya menulis sesuatu yang sudah berlari2 di kepala, butuh energi seperti ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam tubuh…

Ughh… setelah mencoba sedikit berdiam, dalam kamar, merenung… betapa cepat waktu berjalan sementara aku terus berlari tapi tak kunjung sampai tujuan, karena semakin berlari, semakin bercabang-cabang tujuan, sampai tidak tahu, ingin kemanakah aku???

Berhenti, berdiam dan menarik napas dalam… mencoba berpikir, mencoba berjalan walau lambat, memperjelas tujuan…

hhhmmmm melihat ke kiri kanan, mencoba menikmati pemandangan… baru bisa terasa…. betapa indah kasih Tuhan…

Sungguh damai dan tenang hidup di dalam tangan Tuhan
Ku berbakti penih girang dalam kasih Tuhan
O Indah kasihMu, tempatku berteduh
Oh Indahnya kasih Tuhan… Indah kasih Tuhan…

dedicated untuk teman2 yang selalu bekerja keras, berlari mengejar sesuatu…
mari bersama-sama memperlambat…
sehingga kita punya waktu untuk berjabat tangan erat…

terima kasih untuk awan2 yang selalu menemaniku
hari ini hari cerahku…

By Naning Soenoro

Hati seorang kawan …‎

In Story on May 30, 2009 at 7:36 am

Lovely friends

Matahari sedang berjalan menuju ufuk, dimana satu setengah jam lagi akan menuju keperaduaan, dan masih kulihat sebersit semangat dari seorang supir yang mengendarai mobil yang aku tumpangi, guna mencukupi nafkah bagi kelima orang anaknya dan si sulung yang sedang menuntut pendidikan di salah satu perguruan tinggi swasta. Tak urung aku terhenyak, masih ada semangat hidup diantara ribuan bahkan jutaan orang muda disekitar kita.

Kulanjutkan langkah tatkala aku harus berganti kendaraan untuk menemui rekan – rekan lamaku di Senayan City… Seperti apa mereka sekarang? Beribu anganku kembali terbang ketika aku pertama kali bersekolah di SD St. Maria dan mendapat teguran dari Ibu Maria… Hal yang biasa bagi seorang anak yang ingin bersosialisasi dengan kawannya, Ubayanti, berantem dengan Thomas, Judi yang marah ketika aku terjatuh karena dia ada menggendong di punggungku, mengenal sahabat – sahabatku tercinta Katarina Prihayani, Mia “Maria Magdalena Lefteuw, Pepeb “Petrus Febrianus”, Hendrik Manayang. Oya … temen – temen dari Batujajar, “Anto” Sugeng, Albert, Soni “BULE”… dimana mereka saat ini?… Oh Timor Geng’s Jose dan Jimmy Manuel… Dewi Pashado, Naning, Agatha Sri Handayani, Duo Agnes (Indarti dan Pratiwi), Lusi “Trias”.

Ohhh… Lamunanku buyar ketika sepasang pengamen datang untuk menghibur penumpang metromini. Dan kudengar suara adzan magrib menunjukkan bahwa sang matahari akan terlelap diperaduannya.

Perjalanan terus berlanjut hingga aku menapakkan kaki di Senayan City dan menekan tuts HP – ku untuk menghubungi Naning yang telah menungguku sejak jam 6 sore, sorry something trouble before I go, and I need discuss with my lovely wife…

“Cilok… “ Naning memanggil – ku, My named by Petrus Sitepu, dan nama ini kembali mengingatkanku akan masa kecilku…

“Naning… Apa kabar kamu? “

“Lama amat sih…” sebuah ungkapan ketidak sabaran yang panjang seperti dahulu ketika aku kenal dia…

Agak rikuh aku menyalami dia, karena telah lama aku dan tak berapa lama sang Dewi – ku muncul dengan gaya yang sama ketika aku terakhir bertemu di SMP. Nothing change…

Dasar namanya aku yang selalu lupa dengan nama yang baru aku kenal… Naning dan Dewi kan bawa temen tapi kenapa aku lupa sekarang … Sorry ya… panyakit lama…

Sambil mencari smoking area, kami berjalan ke bawah sambil melepas kangen sambil bercanda… Tak lama kemudian Agatha – ku muncul, She is inspired my first daughter name, hahaha sampe sekarang gue ga tahu alasannya, may be she is beautiful dan kita terakhir bertemu di SMAN – 4 Bandung. And I do know where is she going after… terkadang diri ini mendambakan untuk bertemu dengan kalian semua… sayang kemaren reuni aku ga bisa datang.

Yah masih ada canda dan tawa di antara kita, masih ada saling ledek diantara teman, but that’s OK, because I am happy to see my friend. Ada hati yang memaafkan, ada hati yang dimaafkan, semua berlalu dengan melepas rindu… Sepenggal demi sepenggal ingatan menerobos kepalaku untuk mengisi kembali nama demi nama yang pernah aku lupakan, Ubay, Vivi, Jimmy, Gatot, Pebru, Bowo, Simon, Philipus, Tyo… Atau wajah – wajah kecil yang muncul tanpa nama dari teman – temanku dahulu.

Teman… sebegitu rendahnyakah aku sehingga aku melupakan kalian semua, bahkan ketika teman ku meninggalpun aku tidak bisa datang untuk melihat wajah temanku untuk terakhir kalinya.

Yang aku tahu kini adalah harga dari seorang teman. Harga yang tidak dapat dibayar seberapapun jumlah yang dapat diberikan. Bahkan terkadang kita mendapatkan rejeki dari seorang teman.

Ingin ku kembali 30 tahun yang lalu dan menuliskan kenangan – kenangan indah yang pernah aku lalui bersama, ketika aku memandang satu per satu teman – temanku bermain lompat tali, galah asin (gobag sodor.. betawi, red), benteng – bentengan… namun ternyata itu hanya anganku yang kosong, dan bukan ini yang kita harapkan, tapi sebuah jalinan benang merah yang mempertemukan kita kembali dalam rantai silahtuahmi.

Terima kasih kawan atas pertemuan ini yang membuat aku meneteskan air mata bahagia…

Semoga cerita ini tiada pernah berakhir

By Aloycius Erwin

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.