Djati Sampoerna

Secangkir Kopi Pahit dan Sepiring Singkong Bakar

In Daya Hidup, paid review indonesia on May 23, 2009 at 6:08 am

Kemerdekaan suatu bangsa tidak serta merta diikuti oleh kemerdekaan hidup ‎masyarakat yang telah ikut berjuang untuk bangsa tersebut. Tidak juga diiringi oleh ‎kemakmuran masyarakat secara menyeluruh dirasakan.‎ Kemerdekaan bagi masyarakat adalah ketika dia dapat menikmati hidup ini dengan ‎seluruh daya dan upaya atas apa yang dimiliki olehnya tanpa terganggu akan situasi ‎dan kondisi bangsa dan negara tersebut.‎

Belajar dari sejarah berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia, mulai dari ‎Kerajaan Kutai hingga Kerajaan Islam Mataram selalu penuh dengan intrik – intrik ‎politik baik dari dalam kerajaan tersebut maupun dari pihak luar (jaman penjajahan) ‎yang memecah belah kesatuan dan keutuhan dari kerajaan tersebut. ‎ Kesatuan antar suku bangsa tampak ketika Budi Utomo menyatukan seluruh Pemuda ‎dan Pemudi pada 28 Oktober 1928 dan kita kenal dengan SUMPAH PEMUDA, dan ‎ini berlangsung hingga kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.‎ Lalu apa yang terjadi setelah itu?‎ Kembali NKRI yang baru lahir mulai digerogoti oleh Egoisme yang tumbuh untuk ‎memiliki NKRI secara pribadi maupun berkelompok. Sejak diakuinya NKRI oleh ‎negara – negara lain, lebih dari 20 partai yang muncul untuk memiliki Indonesia dan ‎mencoba untuk berkuasa. Apa yang terjadi? Sebuah kehancuran dari suatu bangsa ‎yang baru lahir tanpa merasakan indahnya masa remaja dalam masa menunjukkan jati ‎diri bangsa ini. Kembali intrik politik melumpuhkan ekonomi masyarakat.‎

Terlepas dari pandangan diatas, John F. Kennedy berkata;” Jangan pernah bertanya ‎apa yang telah negara berikan untuk kamu, tapi bertanyalah apa yang telah kamu ‎berikan kepada negara ini?”‎ Perkataan ini selalu saja terdengar ketika kita (saya) ingin melakukan perubahan ‎untuk hidup saya pribadi dan tentunya bagi keluarga saya. Apa yang telah saya ‎lakukan untuk negara ini? Keinginan untuk berubah tidak juga dapat langsung ‎terwujud seketika ketika kita selalu kehilangan fokus dan konsentrasi untuk ‎melakukan sesuatu, hal inilah yang paling banyak mengganggu kemajuan – kemajuan ‎yang kita harapkan.‎ Kemajuan suatu bangsa tidak terlepas dari ‎

☺‎ bagaimana kita berkeinginan untuk membuat sebuah perubahan

☺‎ bagaimana kita berpikir untuk membuat perubahan tersebut bagi kita

☺‎ bagaimana kita merencanakan perubahan – perubahan kecil bagi kita,

☺‎ bagaimana kita melaksanakan perubahan – perubahan nyata yang telah ‎direncanakan

☺‎ dan bagaimana kita melakukan evaluasi atas karya – karya yang telah ‎dilakukan dan membuatnya menjadi lebih baik lagi.‎

Obama kecil memang bercita – cita menjadi seorang Presiden, dan memang Beliau ‎menjadi seorang Presiden di sebuah negara besar. Namun hal tersebut tidak terlepas ‎dari perubahan – perubahan kecil yang dia lakukan untuk mewujudkan cita – citanya ‎tercapai.‎

Setiap orang memiliki DAYA HIDUP – nya yang berbeda dengan kita, dan kita wajib ‎untuk meningkatkan kemampuan DAYA HIDUP yang kita miliki untuk membuat ‎sebuah perubahan – perubahan kecil, baik bagi kita maupun untuk masyarakat ‎disekitar kita.‎ Di dalam daya hidup ada banyak kemampuan dan kalau kita bagi menjadi dua bagian ‎besar akan terdapat pada kehidupan LAHIR dan BATIN kita.‎ Kehidupan Batin kita terdiri dari Hubungan kita dengan Sang Pencipta yang terdiri ‎dari DOA, RASA atau KEINGINAN, MIMPI atau CITA – CITA kita, mungkin ‎diantara kita akan merasakan sebagai sebuah kekuatan dari dalam diri kita dan tidak ‎akan terasa bila kita tidak melatihnya berulang kali, setiap hari bila mungkin.‎ Kehidupan Lahir kita adalah sesuatu yang nampak nyata bagi kita dan ini yang akan ‎menjadi ALAT – ALAT kita dan BEKERJA. Kemampuan kita dalam menggunakan ‎alat – alat yang kita miliki untuk bekerja adalah sebuah proses yang terus dapat ‎dikembangkan untuk melanjutkan kehidupan anda pada hari – hari mendatang.‎

Yang menjadi pertanyaan adalah, maukah kita berubah untuk memulai sesuatu yang ‎lebih baik dari pada saat ini?‎ Sebelum saya dan anda meneruskan membaca tulisan ini hingga selesai, saya ingin ‎mengajak merenungi / flash back akan perjalanan hidup yang telah kita lakukan dan ‎jalan selama ini… ‎ Apakah pernah kita melakukan secara tindakan dari kemampuan yang kita miliki ‎secara maksimal dan tanpa henti? Adakah pernah kita mendapatkan sebuah ‎penghargaan atas kerja keras yang telah kita lakukan selama ini, dan baik secara lahir ‎maupun batin kita merasakan kepuasan atas kerja keras kita itu?‎ ‎…‎ Kalau “YA”, saya akan memberikan penghormatan penuh atas kerja keras anda ‎selama ini, dan tentunya tulisan – tulisan ini mungkin tidak akan menarik buat anda ‎untuk membacanya. Akan tetapi bila anda mengatakan “TIDAK / BELUM”, saya ‎ingin mengajak anda merasakan kepuasan – kepuasan yang belum pernah anda ‎rasakan setelah membaca tulisan – tulisan ini hingga akhir. Namun sebelumnya saya ‎ingin bercerita sedikit kepada anda tentang seorang Guru yang Bijaksana.‎

Di sebuah desa, dimana seorang guru masih dihormati, digugu dan ditiru. Guru ini ‎bernama Budi. Beliau memiliki seorang murid bernama Amir yang memiliki ‎kemampuan lebih dibandingkan dengan murid – murid yang lain.‎ Amir mengetahui bahwa Pak Budi sangat dihormati oleh seluruh warga di desa ‎tersebut, dan warga desa pun juga mengetahui bahwa Pak Budi sangatlah bijaksana ‎dalam memecahkan persoalan – persoalan yang dihadapi oleh murid – muridnya.‎ Suatu ketika Amir mendapatkan seekor burung gereja yang terjatuh dan terluka. ‎Dengan pemikirannya sendiri Amir mendapati Pak Budi untuk menguji kebijaksanaan ‎seperti apa yang menjadi opini masyarakat desa tersebut.‎ Setelah mendapati Pak Budi di rumahnya Amir mengucapkan salam,‎ ‎“Selamat siang Pak Budi”‎ ‎“Selamat siang Amir, ada keperluan apa kamu siang ini bertandang ke rumah ‎Bapak?”‎ ‎“Ah … hanya sekedar ingin bertemu dengan Bapak saja, dan kebetulan saya ‎menemukan seekor burung gereja dalam perjalanan di dekat sini”, jawab Amir, sambil ‎menyembunyikan kedua tangannya dibelakang.‎ ‎“Tapi maaf Pak Budi, sebelum saya menunjukkan burung ini, maukah Bapak ‎menebak?” dan tanpa menunggu jawaban dari Pak Budi, Amir melanjutkan ‎pertanyaannya,‎ ‎“hidup atau matikah burung yang saya temukan, yang sekarang ada ditangan ‎saya ini?’‎ Pak Budi berpikir sejenak, kemana arah pertanyaan Amir tersebut, dan tak lama ‎kemudian beliau menjawab,‎ ‎“Amir, anakku… jawabannya sepenuhnya ada dalam tanganmu, semuanya ada ‎dalam keputusanmu, Bapak tidak mengetahui apakah burung tersebut hidup atau ‎mati… tapi yang pasti jawabannya ada dalam tanganmu sendiri.”‎ Seperti juga Amir, jawaban untuk melanjutkan tulisan ini berada di tangan anda… ‎Saya tidak ingin memaksa anda untuk melanjutkan membaca tulisan, dan bukan ‎keharusan bagi anda untuk melanjutkan tulisan ini bila anda sendiri tidak berkenan. ‎Namun kalau boleh saya memberikan saran, seperti seorang anak kecil yang terus ‎belajar dan terus belajar tidak membaut anak tersebut menjadi tua. Tapi selalu belajar ‎untuk menjadikan kita berpikir “tua” dan “bijaksana” dalam menempuh kehidupan ini.‎

Djati Sampoerna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: