Djati Sampoerna

Hati seorang kawan …‎

In Story on May 30, 2009 at 7:36 am

Lovely friends

Matahari sedang berjalan menuju ufuk, dimana satu setengah jam lagi akan menuju keperaduaan, dan masih kulihat sebersit semangat dari seorang supir yang mengendarai mobil yang aku tumpangi, guna mencukupi nafkah bagi kelima orang anaknya dan si sulung yang sedang menuntut pendidikan di salah satu perguruan tinggi swasta. Tak urung aku terhenyak, masih ada semangat hidup diantara ribuan bahkan jutaan orang muda disekitar kita.

Kulanjutkan langkah tatkala aku harus berganti kendaraan untuk menemui rekan – rekan lamaku di Senayan City… Seperti apa mereka sekarang? Beribu anganku kembali terbang ketika aku pertama kali bersekolah di SD St. Maria dan mendapat teguran dari Ibu Maria… Hal yang biasa bagi seorang anak yang ingin bersosialisasi dengan kawannya, Ubayanti, berantem dengan Thomas, Judi yang marah ketika aku terjatuh karena dia ada menggendong di punggungku, mengenal sahabat – sahabatku tercinta Katarina Prihayani, Mia “Maria Magdalena Lefteuw, Pepeb “Petrus Febrianus”, Hendrik Manayang. Oya … temen – temen dari Batujajar, “Anto” Sugeng, Albert, Soni “BULE”… dimana mereka saat ini?… Oh Timor Geng’s Jose dan Jimmy Manuel… Dewi Pashado, Naning, Agatha Sri Handayani, Duo Agnes (Indarti dan Pratiwi), Lusi “Trias”.

Ohhh… Lamunanku buyar ketika sepasang pengamen datang untuk menghibur penumpang metromini. Dan kudengar suara adzan magrib menunjukkan bahwa sang matahari akan terlelap diperaduannya.

Perjalanan terus berlanjut hingga aku menapakkan kaki di Senayan City dan menekan tuts HP – ku untuk menghubungi Naning yang telah menungguku sejak jam 6 sore, sorry something trouble before I go, and I need discuss with my lovely wife…

“Cilok… “ Naning memanggil – ku, My named by Petrus Sitepu, dan nama ini kembali mengingatkanku akan masa kecilku…

“Naning… Apa kabar kamu? “

“Lama amat sih…” sebuah ungkapan ketidak sabaran yang panjang seperti dahulu ketika aku kenal dia…

Agak rikuh aku menyalami dia, karena telah lama aku dan tak berapa lama sang Dewi – ku muncul dengan gaya yang sama ketika aku terakhir bertemu di SMP. Nothing change…

Dasar namanya aku yang selalu lupa dengan nama yang baru aku kenal… Naning dan Dewi kan bawa temen tapi kenapa aku lupa sekarang … Sorry ya… panyakit lama…

Sambil mencari smoking area, kami berjalan ke bawah sambil melepas kangen sambil bercanda… Tak lama kemudian Agatha – ku muncul, She is inspired my first daughter name, hahaha sampe sekarang gue ga tahu alasannya, may be she is beautiful dan kita terakhir bertemu di SMAN – 4 Bandung. And I do know where is she going after… terkadang diri ini mendambakan untuk bertemu dengan kalian semua… sayang kemaren reuni aku ga bisa datang.

Yah masih ada canda dan tawa di antara kita, masih ada saling ledek diantara teman, but that’s OK, because I am happy to see my friend. Ada hati yang memaafkan, ada hati yang dimaafkan, semua berlalu dengan melepas rindu… Sepenggal demi sepenggal ingatan menerobos kepalaku untuk mengisi kembali nama demi nama yang pernah aku lupakan, Ubay, Vivi, Jimmy, Gatot, Pebru, Bowo, Simon, Philipus, Tyo… Atau wajah – wajah kecil yang muncul tanpa nama dari teman – temanku dahulu.

Teman… sebegitu rendahnyakah aku sehingga aku melupakan kalian semua, bahkan ketika teman ku meninggalpun aku tidak bisa datang untuk melihat wajah temanku untuk terakhir kalinya.

Yang aku tahu kini adalah harga dari seorang teman. Harga yang tidak dapat dibayar seberapapun jumlah yang dapat diberikan. Bahkan terkadang kita mendapatkan rejeki dari seorang teman.

Ingin ku kembali 30 tahun yang lalu dan menuliskan kenangan – kenangan indah yang pernah aku lalui bersama, ketika aku memandang satu per satu teman – temanku bermain lompat tali, galah asin (gobag sodor.. betawi, red), benteng – bentengan… namun ternyata itu hanya anganku yang kosong, dan bukan ini yang kita harapkan, tapi sebuah jalinan benang merah yang mempertemukan kita kembali dalam rantai silahtuahmi.

Terima kasih kawan atas pertemuan ini yang membuat aku meneteskan air mata bahagia…

Semoga cerita ini tiada pernah berakhir

By Aloycius Erwin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: